
INILAH.COM, Jakarta Ini sebuah penggalan kisah hidup Jenderal Besar HM Soeharto. Bicara prestasi kenegaraan, Pak Harto di urutan kedua setelah Panglima Besar Soedirman di antara 61 penerima anugerah Bintang Sakti Maha Wira Ibu Pertiwi.
Tak banyak perwira tinggi yang mendapat anugerah kehormatan itu. Tanda kehormatan itu hanya diberikan kepada perwira TNI yang dinilai andal dan ahli strategi.
Perwira tinggi TNI lain yang juga mendapat penghargaan itu adalah Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution (alm), Laksamana Muda (Anumerta) Josaphat Sudarso, Laksamana TNI (Laut) R Subiyakto, dan Laksamana TNI (Udara) Suryadi Suryadarma.
Karier militer pria kelahiran Desa Kemusuk, Godean, Bantul, 6 Juni 1921, ini bermula sebagai prajurit Koninklijk Nederlans Indische Leger/Tentara Hindia Belanda (KNIL).
Dengan fisik yang sehat, tegap, dan kecerdasan otaknya, Soeharto muda sejak 1 Juni 1940 diterima sebagai siswa militer di Gombong, Jawa Tengah. Enam bulan setelah menjalani latihan dasar, ia selesaikan sekolah militer sebagai lulusan terbaik dan mendapat pangkat Kopral di usia 19 tahun.
Pos penempatan pertama Kopral Soeharto adalah Batalyon XIII, Rampal, Malang. Kemudian Soeharto masuk sekolah lanjutan Bintara di Gombong. Berkat sikap keprajuritan dan disiplinnya yang tinggi, dalam waktu relatif singkat ia mendapat kenaikan pangkat.
Saat pasukan Inggris mendarat di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bandung, pada 29 September 1949, Letkol Soeharto memimpin Batalyon X. Bersama pasukan-pasukan lain, pasukan pimpinannya bertempur melawan tentara Sekutu di Ambarawa.
Untuk merebut kembali obyek-obyek vital di dalam kota, pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) didatangkan dari Banyumas, Salatiga, Surakarta, dan Yogyakarta. Pasukan Inggris di Magelang dan Ambarawa pun terkepung.
Empat kompi pasukan Letkol Soeharto berhasil menduduki Banyubiru dan memukul mundur pasukan Sekutu dari Ambarawa. Sejak peristiwa itu, nama Letkol Soeharto mulai dikenal sebagai perwira yang cakap di lapangan dan mendapat perhatian dari Panglima Besar Soedirman.
Saat Belanda kembali melancarkan agresi militer kedua, Februari 1949, Yogyakarta sudah dalam kekuasaan Letkol Soeharto. Pasukannya mengadakan konsolidasi di luar Yogyakarta.
Sepuluh hari setelah peristiwa itu, Letkol Soeharto dan pasukannya menyiapkan serangan balasan ke pos-pos pasukan Belanda di luar Yogya. Soeharto menyusun siasat secara saksama sebelum melakukan serangan umum ke Kota Yogya.
Menjelang fajar 1 Maret 1949, pasukan Letkol Soeharto mulai bergerilya masuk Kota Yogyakarta. Serangan berjalan lancar dan gencar sehingga Kota Yogya dapat diduduki dalam waktu enam jam.
Kota Yogya direbut kembali dan pasukan TNI merebut berton-ton amunisi dari pasukan Belanda. Tapi, ketika pasukan Belanda kembali dengan mesin perang dan amunisi lengkap, Letkol Soeharto segera memerintahkan pasukannya mundur kembali ke pangkalan masing-masing di luar Kota Yogya.
Serangan yang kemudian dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949 sebetulnya bersifat politis, yakni untuk mendukung perjuangan dan diplomasi RI di PBB.
Secara psikis, serangan itu dilakukan untuk mengobarkan semangat juang rakyat agar mendukung, memulihkan, memupuk, dan meningkatkan kepercayaan terhadap TNI yang masih setia menumpas musuh.
Peran penting lain dalam karier militernya adalah saat ia telah menjadi perwira tinggi. Brigjen Soeharto ketika itu ditunjuk sebagai Panglima Mandala untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda. Operasi itu akhirnya berhasil mengembalikan Irian Barat kembali ke Indonesia pada 1 Mei 1963.
Tugas paling fenomenal dalam karier kemiliterannya adalah saat menumpas G 30 S 1965. Saat itu, Soeharto yang menjabat sebagai Pangkostrad berpangkat mayor jenderal, memimpin operasi penumpasan PKI yang dituding berada di balik aksi pembunuhan enam jenderal pada 30 September 1965. Pimpinan PKI dan orang-orang yang diduga terlibat dalam peristiwa itu ditangkap.
Pada 11 Maret 1966, Jenderal Soeharto mengemban Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) untuk membubarkan PKI sekaligus memulihkan stabilitas keamanan nasional dan kondisi politik Indonesia.
Jenderal Soeharto dilantik sebagai Menteri Utama Bidang Hankam dalam Kabinet 100 Menteri (Ampera), Juli 1966. Para demonstran siswa dan mahasiswa serta berbagai elemen masyarakat menuntut Bung Karno turun dan Kabinet 100 Menteri dibubarkan.
MPRS akhirnya mengukuhkan Jenderal Soeharto menjadi Presiden RI menggantikan Soekarno pada Maret 1967. Putra pasangan Kertosudiro dan Sukirah ini kemudian menjadi pemimpin sipil hingga mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.
Di bidang kemiliteran, sosok Jenderal HM Soeharto termasuk salah satu ahli strategi yang andal di Indonesia. Ia telah memimpin berbagai pertempuran dengan penuh keberanian.
Pengorbanan, kegigihan, pengabdiannya kepada negara dan bangsa, menjadikan salah satu putra terbaik bangsa yang layak mendapat anugerah kehormatan Jenderal Besar TNI dan Bintang Sakti.
Sepanjang 32 tahun memimpin Indonesia, HM Soeharto juga harus diakui memiliki strategi andal di bidang pembangunan. Ia telah membangun berbagai bidang kehidupan dan membuahkan kemajuan pesat di penjuru Tanah Air.
Derapnya sebagai pencetus dan penguasa Orde Baru, tentu, memunculkan sumbu-sumbu yang tidak sepaham dengan garis politiknya. Tapi, dengan berbagai cara, ia selalu mampu meredam akselerasi tokoh dan gerakan 'oposisi' yang pernah selama masa kepemimpinannya.
Krisis moneter medio 1997 yang mendera sejumlah negara Asia, terutama di Indonesia, akhirnya yang menggiring HM Soeharto ke jurang kejatuhannya. Krisis moneter yang memicu krisis politik dan kerusuhan massal itu berujung pada pengunduran diri HM Soeharto, 21 Mei 1998.
Sejak itulah kharisma, peran, jasa, dan figur pimpinan berkarakter Jawa kental yang penuh kontroversi ini terbenam ditelan gelombang dahsyat reformasi. [I3]
sumber : http://www.inilah.com/read/detail/7331/jenderal-besar-ahli-strategi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar